Dalam rangka memperingati Hari Surya Sedunia (World Sun Day) pada 3 Mei, Bincang Energi berkesempatan untuk berkolaborasi dengan Satuplatform dalam sebuah diskusi interaktif yang mengangkat peran strategis energi surya di tengah upaya global menuju transisi energi bersih.

Melalui sesi Instagram Live yang berlangsung secara dinamis, diskusi ini menghadirkan Yuanita Budiman sebagai Chief Development Officer dari Bincang Energi, bersama Bunga Asih Pratiwi, Event & Partnership Manager Satuplatform yang memandu jalannya percakapan. Diskusi tidak hanya membahas potensi energi surya sebagai sumber energi terbarukan, tetapi juga mengupas relevansinya dalam konteks dunia bisnis, efisiensi energi, serta strategi dekarbonisasi yang semakin menjadi perhatian berbagai sektor.
Lebih dari sekadar peringatan simbolik, momentum Hari Surya Sedunia dimanfaatkan sebagai ruang refleksi sekaligus edukasi publik—bagaimana energi surya dapat menjadi solusi nyata yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga kompetitif secara ekonomi dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
[Q] Bagaimana Bincang Energi melihat peran energi surya dalam mendorong transisi energi, khususnya dari energi fosil ke energi berkelanjutan di sektor bisnis?
Energi surya memiliki potensi yang sangat besar di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian ESDM tahun 2023, total potensi energi terbarukan di Indonesia mencapai sekitar 3.600 GW, dan hampir 90% di antaranya berasal dari energi surya. Ini menunjukkan bahwa secara sumber daya, energi surya merupakan salah satu aset terbesar Indonesia dalam mendukung transisi energi.
Selain dari sisi potensi, tren dalam 10 tahun terakhir juga menunjukkan perkembangan yang sangat positif. Salah satu faktor penting adalah penurunan biaya komponen PLTS yang cukup signifikan, sehingga teknologi ini menjadi jauh lebih terjangkau dibandingkan sebelumnya. Hal ini membuka peluang tidak hanya bagi sektor bisnis, tetapi juga untuk penggunaan individu atau residensial.
Dari sisi implementasi, PLTS juga relatif fleksibel. Sistem ini dapat dipasang di berbagai lokasi seperti atap bangunan, lahan terbuka, hingga di atas air. Fleksibilitas ini menjadikan energi surya sebagai solusi yang adaptif untuk berbagai kebutuhan energi di Indonesia.
[Q] Seberapa signifikan kontribusi energi surya dalam menurunkan emisi karbon dibandingkan sumber energi lain
Untuk memahami kontribusinya, kita bisa melihat perbandingan faktor emisi dari berbagai sumber listrik. PLTU batubara di Indonesia memiliki faktor emisi sekitar 800–900 gram CO₂ per kWh, bahkan di beberapa daerah bisa lebih dari 1000 gram CO₂ per kWh. Sementara itu, PLT gas memiliki emisi sekitar setengahnya, yaitu 400–500 gram CO₂ per kWh.
Namun, jika dibandingkan dengan PLTS, perbedaannya sangat signifikan. Emisi dari PLTS hanya sekitar 40–50 gram CO₂ per kWh. Artinya, energi surya memiliki emisi sekitar 20 kali lebih rendah dibandingkan PLTU batubara.
Dengan asumsi kebutuhan energi tetap sama, penggunaan energi surya secara langsung dapat menurunkan emisi karbon dalam jumlah yang sangat besar. Ini menjadikan PLTS sebagai salah satu solusi paling efektif dalam strategi dekarbonisasi.
[Q] Bagaimana integrasi energi surya dapat memperkuat implementasi ESG dalam perusahaan?
Jika dilihat dari perspektif ESG:
- Environment: Energi surya secara langsung berkontribusi dalam menurunkan emisi karbon. Selain itu, penggunaan energi bersih juga mengurangi dampak lingkungan lain seperti emisi dari transportasi bahan bakar fosil.
- Social: Energi surya memiliki keunikan karena dapat dipasang di berbagai lokasi dan kapasitas. Hal ini memungkinkan peningkatan akses energi di daerah terpencil. Bahkan, dalam beberapa kasus, perusahaan dapat menyalurkan kelebihan energi ke komunitas sekitar.
- Governance: Penggunaan energi bersih meningkatkan transparansi dan akuntabilitas perusahaan dalam penggunaan energi. Hal ini penting dalam pelaporan keberlanjutan dan juga menjadi faktor penilaian dalam memperoleh pendanaan hijau dari institusi keuangan.
Dengan demikian, energi surya tidak hanya memberikan manfaat lingkungan, tetapi juga meningkatkan nilai strategis perusahaan secara keseluruhan.
[Q] Apa yang mendorong tren meningkatnya penggunaan PLTS, khususnya PLTS atap di Indonesia?
Terdapat beberapa faktor utama:
- Penurunan biaya teknologi
Harga modul PV mengalami penurunan signifikan dalam 10 tahun terakhir. Dari sekitar 0,38 USD pada 2017 menjadi sekitar 0,1 USD saat ini, atau turun lebih dari 70%. - Perkembangan ekosistem
Saat ini sudah banyak perusahaan EPC lokal dan pengembang PLTS di Indonesia. Bahkan, produksi modul PV lokal juga mulai berkembang. - Skema pembiayaan inovatif
Tersedia skema seperti zero capex, di mana perusahaan tidak perlu investasi awal dan cukup membayar listrik per bulan. - Regulasi yang semakin berkembang
Pemerintah, khususnya Kementerian ESDM, terus memperbaiki regulasi untuk mendukung pengembangan PLTS.
Keempat faktor ini menunjukkan bahwa ekosistem energi surya di Indonesia semakin matang.
[Q] Apa saja tantangan yang dihadapi dalam penerapan energi surya di Indonesia?
Tantangan dapat dilihat dari tiga aspek:
- Teknis:
Banyak perusahaan belum memahami cara mengestimasi kapasitas PLTS yang sesuai dengan kebutuhan dan luas area yang tersedia. - Pembiayaan:
Investasi awal PLTS masih cukup besar, sehingga seringkali bukan prioritas dibandingkan investasi yang langsung meningkatkan produksi. - Regulasi:
Sistem kuota PLTS atap memiliki kelebihan dalam menjaga keandalan sistem listrik, namun juga menjadi pembatas bagi sebagian pengguna.
Meski demikian, solusi seperti edukasi teknis, skema pembiayaan, dan pengembangan regulasi terus diupayakan.
Pertanyaan dari Audiens (Viewer Q&A)
[Q] Bagaimana mengatasi limbah panel surya di akhir masa pakai?
Pengelolaan limbah panel surya masih menjadi tantangan. Panel surya terdiri dari berbagai material seperti kaca dan semiconductor yang sulit dipisahkan. Selain itu, baterai mengandung rare earth minerals yang juga kompleks untuk didaur ulang.
Di beberapa negara Eropa sudah mulai dikembangkan fasilitas pengolahan limbah panel surya, namun masih dalam tahap awal. Di Indonesia sendiri, fasilitas ini belum tersedia, sehingga limbah umumnya masih disimpan oleh pengembang sambil menunggu solusi yang lebih matang di masa depan.
[Q] Bagaimana cara mengatasi intermitensi energi surya?
Intermitensi merupakan tantangan utama karena energi surya bergantung pada intensitas matahari. Untuk mengatasi hal ini, PLN melakukan studi jaringan untuk menentukan kapasitas maksimal energi terbarukan yang dapat diintegrasikan.
Selain itu, salah satu solusi yang sedang dikembangkan adalah penggunaan Battery Energy Storage System (BESS), baik di pembangkit maupun di jaringan. Regulasi terkait penggunaan BESS juga masih dalam tahap pengembangan.
[Q] Apa langkah awal individu untuk memulai dekarbonisasi?
Langkah awal tidak langsung menggunakan energi terbarukan, tetapi melalui tahapan:
- Eliminasi penggunaan energi yang tidak perlu
- Mengurangi konsumsi energi
- Mengganti dengan energi bersih seperti PLTS
- Menggunakan carbon capture jika diperlukan (untuk skala besar)
Pendekatan ini memastikan bahwa penggunaan energi menjadi lebih efisien sebelum beralih ke energi terbarukan.

